MENUNAIKAN SAHUR DAN BUKA

Table of Contents

MENUNAIKAN SAHUR DAN BUKA

MENUNAIKAN SAHUR DAN BUKA

MENUNAIKAN SAHUR DAN BUKA

Sahur itu adalah makan dan minum yang disunnahkan terhadap orang yang akan menunaikan puasa dan lebih utama amalan sahur itu adalah diakhirkan sampai menjelang terbitnya fajar. Maka oleh karena itu perlu diingatkan kepada pembaca yang budiman untuk memperhatikan batas waktu sahur itu. Yaitu terbitnya fajar di ufuk timur dalam bentuk garis putih kemerah-merahan membentang secara horizontal dari utara ke selatan. Inilah yang dinamakan Fajar Shadiq . Adapun sejenak sebelum itu, ada pula sinar putih kemerah-merahan di ufuk timur, tetapi sinarnya dari bawah membentang secara vertikal ke atas. Yang demikian ini dinamakan Fajar Kadzib dan tidak dianggap sebagai batas waktu makan sahur sehingga orang yang berpuasa tetap boleh makan sahur sampai terbitnya Fajar Shadiq . Berbagai ketentuan tersebut di atas telah diterangkan oleh Allah dan RasulNya dalam Al Qur’an dan Al Hadits sebagai berikut :

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan makanlah kalian dan minumlah hingga tampak bagi kalian benang putih dari benang hitam, dari sinar fajar”. S. Al Baqarah 187.

Dalam kaitannya dengan ayat ini, Al Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya pada hadits ke 1916 sebuah pengalaman yang diceritakan oleh Adi bin Hatim radhiyallahu anhu sebagai berikut : “Ketika turun ayat yang mengatakan : Dan makan minumlah sehingga menjadi jelas bagi kalian benang berwarna dari benang berwarna hitam . Aku menyiapkan tali berwarna hitam dan tali berwarna putih dan aku letakkan keduanya di bawah bantalku. Dan setiap saat di kegelapan malam aku melihat kepada keduanyauntuk melihat batas waktu sahur. Sehingga ketika di pagi hari aku bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam dan aku ceritakan kepada beliau apa yang aku lakukan. Maka beliaupun bersabda menjelaskan kepadaku : Yang dimaksud di ayat itu sesungguhnya hanyalah hitamnya malam dan putihnya siang”.

Demikianlah keterangan dari ayat Qur’an yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Maka fajar itu mulai terbitnya di ufuk timur adalah dalam bentuk garis tipis seperti benang berwarna putih yang tampak jelas di tengah-tengah warna hitam kelamnya malam. Dan garis itu bertambah tebal terus menerus. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam menjelaskan lebih lanjut : “Fajar itu ada dua macam : Yaitu fajar jenis pertama bila terbit, maka tidak diharamkan padanya makan dan minum dan tidak dihalalkan shalat subuh. Dan adapun fajar jenis kedua bila ia terbit, maka diharamkan makan dan minum dan dihalalkan shalat subuh”. HR. Al Baihaqi dalam As Sunanul Kubra jilid 4 halaman 216 dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma. Maka fajar jenis pertama dinamakan fajar kadzib dan fajar jenis kedua dinamakan fajar shadiq.

Al Imam Abu Iesa At Tirmidzi telah meriwayatkan dalam Sunannya sebuahpenjelasan dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa aalihi wasallam tentang Fajar Kadzib dan Fajar Shadiq dalam kaitannya dengan bersahur. Dari Thalq bin Ali radhiyallahu anhu beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

“Makan dan minumlah kalian (dalam sahur kalian). Dan janganlah menghalangi kalian untuk makan dan minum sahur dengan terbitnya sinar di ufuk timur yang membentang ke atas (yakni Fajar Kadzib) , dan teruslah kalian makan dan minum sehingga terbit dihadapan kalian di ufuk timur sinar yang membentang horizontal berwarna merah (yakni Fajar Shadiq )”. Al Imam At Tirmidzi menyatakan : “Hadits ini juga diriwayatkan oleh Adi bin Hatim, Abu Dzar dan Samurah bin Jundub”. Kemudian Al Imam At Tirmidzi menambahkan : “Hadits Thalq bin Ali adalah hadits yang Hasan Gharib dari sanad ini. Dan pengamalan hadits ini menurut para Ulama’ adalah ; bahwa tidak haram bagi orang yang akan puasa untuk makan minum di waktu sahur sehingga terbitnya fajar yang berwarna merah membentang secara horizontal di ufuk timur. Mayoritas Ulama berpandangan demikian”. Sampai di sini keterangan Al Imam At Tirmidzi. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud As Sijistani dalam Sunannya hadits ke 2348. Juga hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya jilid 4 halaman 23. Al Imam Ibnu Khuzaimah juga meriwayatkan hadits ini dalam Shahihnya dalam jilid ke 3 halaman 211 riwayat ke 1930.

Adapun hikmah disunnahkannya sahur dan dianjurkan kepadanya adalah karena untuk menyelisihi Ahlul Kitab (yakni Yahudi dan Nashara) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bin Hajjaj Al Qusyairi An Nisaburi dalam Shahihnya hadits ke 1096 dari Amer bin Al Ash radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

“Perbedaan antara puasa kita dengan puasa Ahlil Kitab , adalah makan sahur”.

Juga hikmah makan sahur itu ialah karena adanya barokah yang Allah berikan padanya. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari dalam Shahihnya hadits ke 1923 dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur itu ada barakah”.

Adapun pengertian barakahnya makan sahur itu telah diterangkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wa sallam dalam sabda beliau berikut ini :

“Bantulah ketahanan kalian berpuasa di siang hari dengan bersahur, dan bantulah kekuatan kalian untuk shalat malam dengan tidur siang”. HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya dari Ibnu Abbas hadits ke 1939.

Jadi barakahnya makan sahur itu adalah antara lain membantu ketahanan tubuh orang yang berpuasa. Dengan sebab tujuan bersahur itu demikian, maka disunnahkan bersahur itu dilakukan menjelang terbitnya fajar. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari dalam Shahihnya dari Sahel bin Sa’ad radhiyallahu anhu, beliau menceritakan : “Aku bersahur di keluargaku, kemudian aku segera bergegas menuju masjid untuk aku bisa bersujud pada rakaat pertama shalat subuh bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam”. Demikian dekatnya dengan saat terbitnya fajar makan sahur yang dilakukan Shahabat Nabi yang bernama Sahl bin Sa’ad ini sehingga ketika beliau selesai bersahur langsung menuju masjid untuk shalat subuh, dia telah terlambat satu rakaat. Mungkin ada pikiran di kalangan pembaca yang budiman, bahwa kalau makan sahur itu dipepetkan dengan waktu fajar untuk adzan subuh, lalu apakah tidak dikuatirkan nantinya tidak sempat menghabiskan makan sahurnya sehingga makanan itu tersisa dan mubazzir karena tengah makan sudah tersusul adzan subuh ? Jawabannya adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam berikut ini :

“Apabila salah seorang dari kalian mendengar adzan, dan cawan air minum masih ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkan cawan tempat minum itu sehingga dia menunaikan keperluan minum dari cawan itu”. HR. Abu Dawud dalam Sunannya hadits ke 2350.

Baca Juga :