Tuntunan Sunnah Berkenaan Dengan Puasa Ramadhan

Tuntunan Sunnah Berkenaan Dengan Puasa Ramadhan

Tuntunan Sunnah Berkenaan Dengan Puasa Ramadhan

Tuntunan Sunnah Berkenaan Dengan Puasa Ramadhan

Sebagaimana telah diketahui oleh kita semua, bahawa syarat untuk diterimanya amalan shaleh oleh Allah adalah ikhlas dalam niat dan tujuannya untuk Allah semata dan juga amalan itu haruslah diamalkan sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Maka termasuk upaya persiapan kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan adalah mempelajari tuntunan Sunnah (ajaran Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam) berkenaan dengan puasa Ramadhan. Berikut ini kami bawakan untuk pembaca yang budiman uraian berkenaan dengan masalah tersebut.

PENETAPAN AWAL DAN AKHIR PUASA

Telah sepakat para Ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bahwa penetapan awal bulan Ramadhan sehingga ibadah puasa harus dimulai, adalah dengan melihat terbitnya hilal (Hilal itu artinya terlihatnya bulan yang hanya sejenak dan juga hanya satu garis lengkung yang tipis pada awal setiap hitungan bulan qamariyah. tanggal satu Ramadhan). Juga penetapan akhir bulan Ramadhan sehingga berakhirlah kewajiban ibadah puasa, adalah dengan melihat hilal tanggal satu Syawwal. Karena Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wa sallam bersabda :

“Janganlah kalian mulai berpuasa sehingga kalian melihat hilal (hilal tanggal satu Ramadhan), dan janganlah kalian berbuka (yakni mengakhiri ibadah puasa) sehingga kalian melihat hilal (yakni hilal tanggal satu Syawwal). Bila kalian tertutup awan sehingga tidak bisa melihatnya, maka perkirakanlah ia”. (Yakni genapkan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari sehingga hari berikutnya adalah pasti tanggal satu Ramadhan dan bila mendung itu di akhir Ramadhan, maka genapkanlah Ramadhan itu menjadi tiga puluh hari sehingga hari berikutnya pasti tanggal satu Syawwal. Cara yang demikian ini dinamakan Istikmal, -red). (Shahih Al Bukhari hadits ke 1906)

Dalam hal yang perlu diketahui oleh para pembaca yang budiman, bahwa hitungan hari dalam sebulan itu menurut penanggalan Qamariyah (Yakni penanggalan yang memakai penetapannya dengan mengikuti terbit dan tenggelamnya bulan, sedangkan penanggalan Syamsiyah yaitu penanggalan yang memakai penetapannya dengan berdasarkan peredaran matahari. Penanggalan Hijriyyah memakai sistem Qamariyah sedangkan penanggalan Masehi memakai sistim Syamsiyah) adalah dua puluh sembilan hari. Tetapi bila ternyata dalam kondisi langit tertutup awan, sehingga tidak memungkinkan untuk melihat hilal, maka digenapkan menjadi tiga puluh hari. Jadi tidak ada dalam hitungan penanggalan Qamariyah itu dalam sebulan kurang dari dua puluh sembilan hari dan tidak ada pula dalam sebulan itu lebih dari tiga puluh hari. Hal ini telah diterangkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam dalam sabda beliau sebagai berikut :

“Satu bulan itu adalah dua puluh sembilan malam, maka janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihatnya (yakni melihat hilal awal Ramadhan). Maka bila kalian diliputi oleh awan (sehingga kalian tidak bisa melihat hilal) maka sempurnakanlah bilangan harinya tiga puluh hari”.HR. Bukhari dalam Shahihnya riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma.

Dalam riwayat Bukhari juga dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda : Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian (yakni mengakhiri bulan Ramadhan) karena melihat hilal. Maka bila kalian tertutup awan sehingga tidak dapat melihatnya, sempurnakannlah Sya’ban menjadi tiga puluh hari” (Demikian pula Ramadhan bila di waktu tenggelam matahari pada tanggal 29 Ramadhan tidak terlihat hilal karena mendung atau sebab lainnya, maka sempurnakan ia menjadi tiga puluh hari sehingga hari sesudahnya sudah pasti tanggal satu Syawwal).

Maka dengan hadits-hadits tersebut dituntunkan untuk mulai melihat hilal tanggal 29 Sya’ban di waktu sejenak menjelang tenggelamnya matahari pada tanggal tersebut. Bila terlihat hilal, maka itu berarti telah memasuki tanggal satu Ramadhan, sehingga esok harinya setelah terbit fajar sudah dimulai ibadah puasa Ramadhan. Dan bila ternyata tidak terlihat hilal karena tertutup awan, maka esok harinya masih dianggap tanggal 30 Sya’ban dan belum mulai ibadah puasa dan sehari sesudah tanggal tiga puluh Sya’ban itu baru mulai tanggal satu Ramadhan. Demikianlah mestinya menurut Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam.

Adapun penetapan mulai puasa Ramadhan dan mengakhirinya dengan apa yang dinamakan ilmu hisab, yang demikian ini adalah salah satu bentuk amalan muhdatsah (yang baru dalam agama) yang tidak dikenal dalam Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Dan semua yang muhdatsah itu adalah bid’ah dan semua yang bid’ah itu adalah sesat.

Para Ulama’ juga membincangkan tentang saksi orang melihat bulan, bisa diterima persaksiannya walaupun saksinya hanya satu. Asal saksi melihat bulan itu telah pula bersaksi bahwa dirinya adalah seorang Muslim. Hal ini telah diberitakan dari perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam sebagai berikut :

Abdullah bin Umar bin Al Khattab radhiyallahu anhuma telah menceritakan : “Orang-orang berusaha melihat hilal tanggal satu Ramadhan, maka aku memberitakan kepada Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam bahwa aku telah melihatnya, maka beliaupun berpuasa dan memerintahkan sekalian kaum Muslimin berpuasa”. HR. Abu Dawud dalam Sunannya hadits ke 2342, dan Ad Darimi dalam Sunannya jilid 2 halaman 4, dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya hadits ke 871, Al Hakim dalam Mustadraknya jilid 1 halaman 423, Al Baihaqi dalam As Sunanul Kubra jilid 4 halaman 212.

Sumber : https://abovethefraymag.com/